Tradisi Mengunjungi Orang Yang Baru Haji | Apa Dasar dan Fadhilahnya? Sampai Kapan Batas Waktunya?

Tradisi Mengunjungi Orang Yang Baru Haji | Apa Dasar dan Fadhilahnya? Sampai Kapan Batas Waktunya?

Tradisi Mengunjungi Orang Yang Baru Haji

Apa Dasar dan Fadhilahnya? Sampai Kapan Batas Waktunya?

Oleh: Hms. Ilman Zuhri & Ataya M. Ahnaf Rabbani

(Siswa Frq. Funun PP. Fadllul Wahid)

 

Sebentar lagi para jamaah haji Indonesia akan kembali ke daerah asalnya masing-masing. Setelah pulang ke daerahnya, ternyata di Indonesia sendiri terdapat tradisi unik untuk menyambut kepulangan jamaah haji ke tanah air.

 

Setibanya jemaah haji tiba di rumah, beberapa saudara, tetangga, bahkan teman akan mengunjunginya. Tradisi mengunjungi orang yang baru pulang haji merupakan tradisi turun temurun yang mengakar di masyarakat. Kebiasan ini sudah menjadi hal umum, mereka yang mengunjungi orang yang baru pulang dari berhaji meminta didoakan, sebab doanya diyakini mustajab.

 

Nah, apakah anggapan dan keyakinan demikian memang memiliki dasar dari syariat?. Simak penjelasannya berikut.

 

Sebagaimana yang sudah maklum bahwa, termasuk dari perkara baik ialah meminta do’a dari orang lain atas sebuah kebaikan. Selanjutnya, meminta do’a orang lain yang bertepatan dengan kepulangannya dari ibadah haji memiliki keistimewaan tersendiri. Hal ini berdasarkan riwayat Hadits Nabi

عن عبد الله بن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إذا لقيت الحاج فسلم عليه وصافحه ومره أن يستغفر لك قبل أن يدخل بيته فإنه مغفور له

“Dari Abdullah bin Umar berkata bahwasanya nabi Muhammad pernah berkata: Ketika engkau bertemu dengan orang yang haji, maka ucapkanlah salam kepadanya, bersalam-salaman, dan mintalah agar ia memohonkan ampunan kepada mu sebelum dia masuk ke rumahnya, karena doanya itu mustajab.” (HR. Ahmad)

 

Meskipun hadits tersebut dinilai dhaif dalam sanadnya, oleh Sebagian kalangan, seperti yang dikatakan Nuruddin Ali al-Haitsami dalam kitab Majma’ az-Zawaidnya sebab terdapat Muhammad bin Bailamani pada jalur periwayatannya. [Majma’ az-Zawaid: III/691]

 

Namun, dasar-dasar untuk mengamalkannya dalam rangka fadhailul amal itu diperbolehkan, sebagaimana yang diterangkan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki:

 حكم الحديث الضعيف : أولا : الحديث الضعيف لا يعمل به في العقائد والاحكام , ويجوز العمل به في الضائل

“Hukum hadits dhaif yang pertama ialah, hadits dhaif itu tidak dapat diamalkan dalam hal akidah dan hukum, dan boleh diamalkan dalam fadhailul amal.” [al-Manhal al-Lathif: hlm. 67]

 

Dari referensi di atas menyatakan bahwa hadist yang dhaif itu boleh diamalkan dalam fadhailul amal. Selain itu juga diperkuat dengan riwayat lain bahwa nabi pernah memanjatkan sebuah do’a berikut:

 وقال صلى الله عليه و سلم اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ

“Beliau Nabi Muhammad berdoa: ‘Ya Allah ampunilah orang yang haji dan orang yang meminta didoakan pengampunan dari orang yang haji tersebut.” [Ihya’ Ulum ad-Din: I/241]

 

Hadits di atas dinilai oleh Imam al-Iraqi berasal dari riwayatnya Abu Hurairah dan berstatus sebagai hadits shahih. [Tahrij Ahadits al-Ihya: II/267]

 

Selain hadits di atas, meminta do’a kepada orang yang beru haji juga mempunyai dasar sebuah atsar dari Sayyidina Umar sebagai berikut:

 وقال عمر رضي الله عنه الحاج مغفور له ولمن يستغفر له في شهر ذي الحجة والمحرم وصفر وعشرين من ربيع الأول

“Sayyidina Umar bin Khattab berkata: Orang yang haji itu diampuni dan orang meminta agar ia di doakan pengampunan darinya pada saat bulan Dzulhijjah, Muharram, Safar dan tanggal 20 bulan Rabiul Awal.” [Ihya’ Ulum ad-Din: I/241]

 

Disebutkan juga dalam sebuah hikayat bahwa Uwais al-Qarni pernah meminta doanya laki-laki yang barusaja pulang dari bepergiannya. Kejadian tersebut kemudian dijelaskan oleh ulama:

وأشار إلى فضل السفر الصالح وأن القادم منه أرجى لإجابة دعائه فلذا سأل منه أويس الدعاء بقوله: فاستغفر لي

“(Kejadian sebelumnya) mengisyaratkan bahwa adanya keutamaan atas bepergian yang baik, dan bahwasanya dating dari bepergian baik itu lebih dapat diharapkan ijabahnya doanya, sehingga Uwais memintakan doa kepadanya dengan berucap: ‘Mintakanlah ampunan kepadaku’.” [Dalil al-Falihin: IV/60]

 

Adapun kisah lengkapnya seperti yang disebutkan dalam Shahih Muslim sebagai berikut:

كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِذَا أَتَى عَلَيْهِ أَمْدَادُ أَهْلِ الْيَمَنِ سَأَلَهُمْ أَفِيكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ حَتَّى أَتَى عَلَى أُوَيْسٍ فَقَالَ أَنْتَ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَكَانَ بِكَ بَرَصٌ فَبَرَأْتَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ لَكَ وَالِدَةٌ قَالَ نَعَمْ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ

فَاسْتَغْفِرْ لِي فَاسْتَغْفَرَ لَهُ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ الْكُوفَةَ قَالَ أَلَا أَكْتُبُ لَكَ إِلَى عَامِلِهَا قَالَ أَكُونُ فِي غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيَّ قَالَ فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْعَامِ الْمُقْبِلِ حَجَّ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِهِمْ فَوَافَقَ عُمَرَ فَسَأَلَهُ عَنْ أُوَيْسٍ قَالَ تَرَكْتُهُ رَثَّ الْبَيْتِ قَلِيلَ الْمَتَاعِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ فَأَتَى أُوَيْسًا فَقَالَ اسْتَغْفِرْ لِي قَالَ أَنْتَ أَحْدَثُ عَهْدًا بِسَفَرٍ صَالِحٍ فَاسْتَغْفِرْ لِي قَالَ اسْتَغْفِرْ لِي قَالَ أَنْتَ أَحْدَثُ عَهْدًا بِسَفَرٍ صَالِحٍ فَاسْتَغْفِرْ لِي قَالَ لَقِيتَ عُمَرَ قَالَ نَعَمْ فَاسْتَغْفَرَ لَهُ فَفَطِنَ لَهُ النَّاسُ فَانْطَلَقَ عَلَى وَجْهِهِ قَالَ أُسَيْرٌ وَكَسَوْتُهُ بُرْدَةً فَكَانَ كُلَّمَا رَآهُ إِنْسَانٌ قَالَ مِنْ أَيْنَ لِأُوَيْسٍ هَذِهِ الْبُرْدَةُ

"Ketika [Umar bin Khaththab] didatangi oleh rombongan orang-orang Yaman, ia selalu bertanya kepada mereka: 'Apakah Uwais bin Amir dalam rombongan kalian? ' Hingga pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khaththab bertemu dengan Uwais seraya bertanya: 'Apakah kamu Uwais bin Amir? ' Uwais menjawab: 'Ya. Benar saya adalah Uwais.' Khalifah Umar bertanya lagi: 'Kamu berasal dari Murad dan kemudian dan Qaran? ' Uwais menjawab: 'Ya benar.' Selanjutnya Khalifah Umar bertanya lagi: 'Apakah kamu pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar mata uang dirham pada dirimu? ' Uwais menjawab: 'Ya benar.' Khalifah Umar bertanya lagi: 'Apakah ibumu masih ada? ' Uwais menjawab: 'Ya, ibu saya masih ada.' Khalifah Umar bin Khaththab berkata: 'Hai Uwais, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Uwais bin Amir akan datang kepadamu bersama rombongan orang-orang Yaman yang berasal dari Murad kemudian dari Qaran. Ia pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar uang dirham. Ibunya masih hidup dan ia selalu berbakti kepadanya. Kalau ia bersumpah atas nama Allah maka akan dikabulkan sumpahnya itu, maka jika kamu dapat memohon agar dia memohonkan ampunan untuk kalian, lakukanlah!

‘Oleh karena itu hai Uwais, mohonkanlah ampunan untukku! ' Lalu Uwais pun memohonkan ampunan untuk Umar bin Khaththab. Setelah itu, Khalifah Umar bertanya kepada Uwais: 'Hendak pergi kemana kamu hai Uwais? ' Uwais bin Amir menjawab: 'Saya hendak pergi ke Kufah ya Amirul mukminin.' Khalifah Umar berkata lagi: 'Apakah aku perlu membuatkan surat khusus kepada pejabat Kufah? 'Uwais bin Amir menjawab: 'Saya Iebih senang berada bersama rakyat jelata ya Amirul mukminin.' Usair bin Jabir berkata: 'Pada tahun berikutnya, seorang pejabat tinggi Kufah pergi melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Selesai melaksanakan ibadah haji, ia pun pergi mengunjungi Khalifah Umar bin Khaththab. Lalu Khalifah pun menanyakan tentang berita Uwais kepadanya. Pejabat itu menjawab: 'Saya membiarkan Uwais tinggal di rumah tua dan hidup dalam kondisi yang sangat sederhana.' Umar bin Khaththab berkata: 'Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Kelak Uwais bin Amir akan datang kepadamu bersama rombongan orang-orang Yaman. Ia berasal dari Murad dan kemudian dari Qaran. Ia pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar mata uang dirham. Kalau ia bersumpah dengan nama Allah, niscaya akan dikabulkan sumpahnya. Jika kamu dapat meminta agar ia berkenan memohonkan ampunan untukmu, maka laksanakanlah! ' Setelah itu, pejabat Kufah tersebut Iangsung menemui Uwais dan berkata kepadanya: 'Wahai Uwais, mohonkanlah ampunan untukku! ' Uwais bin Amir dengan perasaan heran menjawab: 'Bukankah engkau baru saja pulang dari perjalanan suci, ibadah haji di Makkah? Maka seharusnya engkau yang memohonkan ampunan untuk saya.' Pejabat tersebut tetap bersikeras dan berkata: 'Mohonkanlah ampunan untukku hai Uwais? ' Uwais bin Amir pun menjawab: 'Engkau baru pulang dari ibadah haji, maka engkau yang Iebih pantas mendoakan saya.' Kemudian Uwais balik bertanya kepada pejabat itu: 'Apakah engkau telah bertemu dengan Khalifah Umar bin Khaththab di Madinah? ' Pejabat Kufah itu menjawab: 'Ya. Aku telah bertemu dengannya.' Akhirnya Uwais pun memohonkan ampun untuk pejabat Kufah tersebut. Setelah itu, Uwais dikenal oleh masyarakat luas, tetapi ia sendiri tidak berubah hidupnya dan tetap seperti semula. Usair berkata: 'Maka aku memberikan Uwais sehelai selendang yang indah, hingga setiap kali orang yang melihatnya pasti akan bertanya: 'Dari mana Uwais memperoleh selendang itu? '"

 

Berdasarkan argumentasi yang telah disebutkan di atas ulama’ menyimpulkan bahwa hukum meminta do’a kepada orang yang baru haji itu sunnah. Hal ini seperti kutipan berikut ini:

مِنْ آدَابِ الْعَوْدِ مِنَ الْحَجِّ مَا يَلِي :- ب - يُسْتَحَبُّ لِمَنْ يُسَلِّمُ عَلَى الْحَاجِّ أَنْ يَطْلُبَ مِنَ الْحَاجِّ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَهُ ، كَمَا يُسْتَحَبُّ أَنْ يَدْعُوَ لِلْحَاجِّ أَيْضًا وَيَقُول : قَبِل اللَّهُ حَجَّكَ وَغَفَرَ ذَنْبَكَ ، وَأَخْلَفَ نَفَقَتَكَ  .

وَيَدْعُو الْحَاجُّ لِزُوَّارِهِ بِالْمَغْفِرَةِ ، فَإِنَّهُ مَرْجُوُّ الإْجَابَةِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنْ . اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ .

“Termasuk adab kembali dari ibadah haji yaitu: - b - Bagi orang yang menyalami orang haji disunnahkan untuk meminta kepadanya agar ia dimohonkan ampunan, seperti disunnahkannya mendoakan orang haji dengan ucapan: ‘Semoga Allah menerima hajimu dan mengampuni dosamu, serta menggantikan nafkahmu”.

Dan bagi orang yang haji, juga disunnahkan mendoakan pengampunan untuk orang-orang yang berkunjung kepadanya, karena doanya itu sangat diharapkan ijabahnya, sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Rasulullah: ‘Ya Allah ampunilah orang yang haji dan orang yang meminta didoakan pengampunan dari orang yang haji tersebut’.” [al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah: XV/83]

 

وَيُنْدَبُ لِلْحَاجِّ الدُّعَاءُ لِغَيْرِهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَإِنْ لَمْ يَسْأَلْهُ وَلِغَيْرِهِ سُؤَالُهُ الدُّعَاءَ بِهَا.

“Disunnahkan bagi orang yang haji untuk mendoakan pengampunan terhadap orang lain meskipun tidak di mintai, bagi orang lain pun sunnah meminta untuk di doakan pengampunan.” [Hasiyyah al-Jamal: X/107]

 

Bahkan, apabila melihat tradisi salafusshalih maka akan dijumpai bahwa mereka menyambut orang yang baru berhaji dengan mengunjunginya dan memintakan doa kepadanya. Keterangan ini sebagaimana yang disebutkan Imam Ghazali dan Imam Rahibani:

وقد كان من سنة السلف أن يشيعوا الغزاة وأن يستقبلوا الحاج ويقبلوا بين أعينهم ويسألوهم الدعاء ويبادرون ذلك قبل أن يتدنسوا بالآثام

“Dalam era ulama salaf terdapat tradisi mengantarkan perajurit-perajurit perang, menyambut orang haji, duduk di depannya dan memintakan doa darinya; semua di lakukan sebelum orang tersebut terkotori oleh dosa.” [Ihya’ Ulum ad-Din: I/241]

 

(وَ) قَالَ (فِي «الْمُسْتَوْعِبِ» كَانُوا) أَيْ السَّلَفُ (يَغْتَنِمُونَ أَدْعِيَةَ الْحَاجِّ قَبْلَ أَنْ يَتَلَطَّخُوا بِالذُّنُوبِ) وَفِي الْخَبَرِ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنْ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ»

 “Dalam kitab al-Mustauib disebutkan bahwa era ulama salaf mereka sering meminta doa dari orang yang haji sebelum orang yang haji terkotori dosa, dan sebuah riwayat hadist berbunyi: ‘Ya Allah ampunilah orang yang berhaji dan orang meminta doa darinya’.” [Mathalib Uli an-Nuha: II/443]

 

Batas Akhir

Adapun batas akhir momen meminta doa orang yang baru berhaji, itu terjadi perbedaan pandangan diantara para ulama.

 

Syaikh Sulaiman al-Jamal mengutipnya seperti ini:

قَالَ الْعَلَّامَةُ الْمُنَاوِيُّ ظَاهِرُهُ أَنَّ طَلَبَ الِاسْتِغْفَارِ مِنْهُ مُؤَقَّتٌ بِمَا قَبْلَ الدُّخُولِ فَإِنْ دَخَلَ فَاتَ. لَكِنْ ذَكَرَ بَعْضُهُمْ أَنَّهُ يَمْتَدُّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا مِنْ مَقْدِمِهِ  وَفِي الْإِحْيَاءِ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ ذَلِكَ يَمْتَدُّ بَقِيَّةَ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ وَصَفَرٍ وَعِشْرِينَ يَوْمًا مِنْ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ

“Imam Munawi berkata: ‘Bahwa waktu meminta didoakan ampunan dari orang yang telah haji yaitu: sebelum masuknya ke rumah. Jika sudah masuk ke rumah, maka sudah tidak ada lagi kesunahan untuk meminta doa darinya. Tetapi Sebagian ulama berkomentar: ‘Waktunya atau momen meminta doa terhadap orang yang haji itu selama 40 (empat puluh) hari, di mulai dari sampainya orang haji tersebut ke rumahnya’. Dalam kitab ihya’: menurut Sayyidina Umar bin Khattab berkata waktunya sangatlah lama selagi masih dalam liputan bulan berikut: Dzulhijjah, Muharram, Safar dan hari ke 20 (dua puluh) bulan Robiul Awal.” [Hasiyyah al-Jamal: X/107]

 

Dan kutipan Ihya’ yang berasal dari perkataan Sayyidina Umar, dikomentari secara menarik oleh Imam Sakhawi:

قلت: ويمكن أن تكون الحكمة في ذلك أن أكثر الحاج يصل إلى مكة في أول ذي الحجة، أو قبله يسير، ومعلوم أن الحسنة بعشر أمثالها، فجُعل لكل يوم من عشر ذي الحجة، ما عدا يوم الوقوف، والذي بعده، لمزيد الثواب فيهما عشرة أيام، فتبلغ ذلك ثمانين يوما، والقدر المذكور هنا ذا المقدار، ويحتمل أن يكون ذلك أقصى زمن، ينتهي فيه القاصد لمكة غالبًا.

“Menurutku: mungkin saja, hikmah dalam masa momen tersebut (meminta do’a orang yang berhaji) pada bulan Dzul hijjah, Muharram, Shafar, dan Rabi’ul Awwal tanggal 20, karena mayoritas orang haji sampai ke Makkah pada saat awal bulan Dzul hijjah atau sebelumnya sedikit. Sebagaimana yang sudah maklum bahwa, ‘setiap kebaikan akan dilipat gandakan 10 kali’, maka maka setiap hari sampai sepuluh Dzulhijjah, kecuali hari wukuf dan hari-hari setelahnya sebab pahalanya sebanding sepuluh hari, sehingga total kelipatannya mencapai 80 hari. Kadar hitungan tersebut sesuai dengan hitungan ini, dan mungkin saja waktu tersebut waktu terpendek yang ditempuh oleh orang yang akan berhaji di Makkah secara umum.” [al-Ajwibah al-Mardhiyyah: I/61]

 

Kesimpulannya:

Disunnahkan bagi seseorang untuk menyambut, menjenguk, dan meminta agar di doakan orang yang baru berhaji; karena diyakini doanya sangatlah mustajab seperti yang telah terlaku pada era ulama’ salaf. Sedangkan momennya diperkhilafkan antara sebelum masuk kerumah, ada juga yang mengatakan sampai 40 hari setelah ia pulang, bahkan menurut sayyidina Umar bin Khattab yaitu sampai tanggal 20 bulan Rabiul Awal.

 

Wallahu a’lam bisshawab

Sekian, Semoga Bemanfaat

Bagikan :

Tambahkan Komentar Baru

 Komentar Anda berhasil dikirim. Terima kasih!   segarkan
Kesalahan: Silakan coba lagi