Menakar “Keutamaan Kurban” Antara Satu Kambing & Satu Sapi Untuk Tujuh Orang

  • Menakar “Keutamaan Kurban” Antara Satu Kambing & Satu Sapi Untuk Tujuh Orang
  • images (1)

Menakar “Keutamaan Kurban” Antara Satu Kambing & Satu Sapi Untuk Tujuh Orang

Oleh: M. Minanur Rohman

Salah satu ibadah yang biasanya dijalankan oleh umat muslim pada bulan dzul hijjah ialah berkurban.

Dirunut dari sejarahnya, ibadah ini pertama disyariatkan kepada nabi Ibrahim alaihissalam; mulanya beliau diperintah untuk mempersembahkan putranya kehadirat Ilahi, lantas Allah mengirimkan kambing sebagai ganti.

Skenario Allah ini setidaknya memiliki rahasia; sebagai penguji tolak ukur totalitas ketaatan nabi Ibrahim alaihissalam kepada-Nya, juga sebagai perintah kepada manusia untuk menyukuri nikmat duniawi yang tidak dirasakan oleh semua manusia; dengan cara menyembelih kurban yang dagingnya bisa dirasakan bersama.[1]

Selain disyariatkan kepada nabi Ibrahim alaihissalam, ibadah kurban juga disyariatkan kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada tahun kedua hijriyyah.

Syariat kurban ini sebagaimana disebut dalam al-Qur’an surat al-Kautsar ayat kedua, juga disebut dalam banyak riwayat hadis, sehingga menjadi sebuah konsensus. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ما انفقت الورق في شئ افضل من نحيرة في يوم عيد

“Tiada sejumlah uang yang dibelanjakan untuk sesuatu yang lebih utama selain dari untuk membeli hewan kurban di Hari Raya Kurban.” (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat tersebut menunjukkan bahwa kurban memiliki keutamaan yang tinggi, bahkan dalam riwayat lain disebutkan:

قال اصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم يا رسول الله ما هذه الأضاحي قال سنة أبيكم إبراهيم عليه الصلاة و السلام قالوا فما لنا فيها يا رسول الله، قال بكل شعرة حسنة قالوا فالصوف يا رسول الله قال بكل شعرة من الصوف حسنة رواه أحمد وبن ماجة والحاكم

"Para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah maksud dari hewan-hewan kurban seperti ini?" beliau bersabda: "Ini merupakan sunnah (ajaran) ayah kalian, Ibrahim." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, lantas apa yang akan kami dapatkan dengannya?" beliau menjawab: "Setiap rambut terdapat kebaikan." Mereka berkata, "Bagaimana dengan bulu-bulunya wahai Rasulullah?" beliau menjawab: "Dari setiap rambut pada bulu-bulunya terdapat suatu kebaikan." (HR. Ibnu Majah)

Dari beberapa hewan yang sah dijadikan kurban, secara runtutan yang paling utama ialah seperti yang disebutkan dalam kitab Kanzur Raghibin sebagai berikut:

( وَأَفْضَلُهَا ) أَيْ الْأُضْحِيَّةِ ( بَعِيرٌ ثُمَّ بَقَرَةٌ ثُمَّ ضَأْنٌ ثُمَّ مَعْزٌ ) كَذَا فِي أَصْلِ الرَّوْضَةِ

“Adapun yang lebih utama dijadikan sebagai kurban ialah unta, lalu sapi, domba, kambing seperti yang telah disebut dalam aslinya kitab raudhah.”

Arah dari keutamaan, tersebut menurut Imam al-Qulyubi ialah dari sisi banyaknya pahala.[2] Hal ini memandang unta dianggap lebih banyak mengalirkan darah dan lebih banyak dagingnya daripada sapi sehingga lebih merata dibagikan kepada fakir miskin, begitu pula perbandingan antara sapi dan kambing. Sedangkan domba itu lebih utama daripada kambing karena dagingnya lebih bagus.[3]

Runtutan keutamaan hewan-hewan kurban juga tersirat dalam hadis:

“Barangsiapa berangkat shalat jum’at pada waktu pertama; maka (seakan) mendapat unta, barangsiapa berangkat shalat jum’at pada waktu kedua; maka (seakan) mendapat sapi, dan barangsiapa berangkat shalat jum’at pada waktu ketiga; maka (seakan) mendapat kambing.”

Bahkan al-Qadhi al-Husein mempertegas bahwa runtutan tersebut sebagaimana Allah menjadikan nishab zakatnya unta bila telah mencapai lima ekor, sedangkan sapi bila telah  mencapai tigapuluh ekor.[4]

Dari beberapa jenis hewan kurban; ulama merumuskan bahwa satu domba atau kambing hanya boleh dijadikan kurban untuk satu orang, sedangkan satu unta atau sapi boleh untuk tujuh orang.

 

Kemudian, antara kurban satu kambing untuk satu orang dengan satu sapi untuk tujuh orang (patungan) lebih utama mana?

Seperti yang telah disebutkan di awal bahwa: disamping kurban menjadi sebuah ibadah yang disyariatkan sebagai penguji tolak ukur totalitas ketaatan seorang hamba. Kurban juga merupakan ibadah yang berperan pada sektor sosial melihat hasil kurban diharap dapat dinikmati masyarakat secara luas. Kedua faktor ini, dalam kajian fikih kurban sepadan dengan istilah iraqat al-dam (mengalirkan darah) dan ighna’ al-faqir (mendistribusi orang fakir).

Kedua faktor ini lah yang menjadi titik perbedaan pendapat ulama terkait persoalan yang sedang dibahas. Sebab, bila berkehendak meraih iraqat al-dam maka mestinya berkurban satu kambing lebih utama daripada ikut patungan dengan orang lain guna berkurban satu sapi, sebaliknya bila berkehendak meraih ighna' al-faqir maka mestinya ikut patungan dengan orang lain untuk guna berkurban satu sapi lebih utama daripada kurban satu kambing.

Imam Nawawi dalam Minhajnya, beliau menuturkan:

وَشَاةٌ أَفْضَلُ مِنْ مُشَارَكَةٍ فِي بَعِيرٍ

“Satu kambing itu lebih utama daripada patungan satu unta.”

Ungkapan ini, kemudian dikomentari Syaikh Jalaluddin al-Mahalli dalam kitabnya:

 ( وَشَاةٌ أَفْضَلُ مِنْ مُشَارِكَةٍ ) بِقَدْرِهَا ( فِي بَعِيرٍ ) أَوْ بَقَرَةٍ لِلِانْفِرَادِ بِإِرَاقَةِ الدَّمِ

“Ungkapan Imam Nawawi satu kambing lebih utama daripada ikut patungan unta atau sapi, dengan sekadar satu kambing, karena dapat menyendiri dalam mengalirkan darah.”[5]

Imam al-Zarkasyi menerangkan bahwa keutamaan kurban dengan satu kambing melebihi satu sapi secara patungan, sebagaimana kesunnahan sholat dengan membaca surat pendek secara total/selesai itu lebih utama daripada membaca sebagian surat panjang.[6]

Kemudian Syaikh Khatib al-Syirbini menimpali, bahwa keutamaan tersebut berlaku bila kadar patungan satu sapi sama dengan kadar satu kambing:

إذَا زَادَ عَلَى قَدْرِهَا يَكُونُ أَفْضَلَ

“Apabila ikut patungan melebihi kadar satu kambing, maka ini yang lebih utama.”

Kutipan dari Syaikh Khatib al-Syirbini ini dianggap pendapat yang kuat dalam madzhab syafii sebagaimana penegasan Imam al-Qulyubi dalam Hasiyyahnya atas kitab Kanzur Raghibin,[7] juga dicatat oleh Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam kitabnya, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Beliau menyebutkan:

وعبارة الشافعية والحنابلة:...وشاة أفضل من مشاركة في بعير إذا تساويا في القدر، للانفراد بإراقة الدم وطيب اللحم. فإن كان سبع البعير أكثر قدراً، كان أفضل.

“Ibarat ulama syafiiyyah dan hanabilah menyebutkan: ... satu kambing lebih utama daripada patungan untuk unta, bila kadarnya sama, karena menyendiri dalam mengalirkan darah dan bagusnya daging. Sedangkan bila kadar patungan tujuh orang atas satu unta lebih banyak, maka ini yang lebih utama.”[8]

Terkait persoalan yang sedang dibahas kali ini, beliau juga menyitir pandangan madzhab lain bahwa:

قال الحنفية: .. فالشاة أفضل من سبع البقرة إذا استويا في القيمة واللحم، وإن كان سبع البقرة أكثر لحماً فهو أفضل. ..وقال المالكية: الأفضل الغنم: فحله، فخصيه، فأنثاه، ثم المعز، ثم البقر، ثم الإبل، لطيب اللحم.

“Menurut pandangan ulama hanafiyyah: satu kambing lebih utama dibanding patungan satu sapi, ketika harga dan kadar dagingnya sama. Sedangkan ketika patungan satu sapi mendapat daging yang lebih banyak, maka ini yang lebih utama. Menurut pandangan ulama malikiyyah yang lebih utama ialah kambing yang jantan, lalu yang dikebiri, lalu betina, lalu kambing kacang, lalu sapi, lalu unta, berdasarkan bagusnya daging.[9]

 

Hanya saja sebagian ulama tetap bersikukuh bahwa mereka konsisten menyatakan lebih utama kurban dengan satu kambing, sebagaimana kesunnahan sholat dengan membaca sebagian surat panjang itu lebih utama daripada membaca surat pendek secara total/selesai.[10]

Wallahu A’lam Bisshawab

Sekian, semoga bermanfaat.

Referensi:

[1] Ali Ahmad Al-Jurjani, Hikmat al Tasyri’ wa Falsafatuhu, vol. 1 hlm. 190, Dar al Kutub al Ilmiyyah

[2] Ahmad bin Ahmad bin Salamah al-Qulyubi, Hasiyyah al-Qulyubi, vol. 4 hlm. 252, Dar al-Fikr

[3] Al-Husein bin Mas’ud al-Baghawi, al-Tahdzib, vol. 8 hlm. 39, Dar al Kutub al Ilmiyyah cet. 1 1997.  Zakariya al-Anshari,  Fathul Wahhab, vol. 2 hlm. 328, Dar al Kutub al Ilmiyyah

[4] Ahmad bin Muhammad ibn Rif’ah, Kifayat al-Nabih Syarh al-Tanbih, vol. 8 hlm. 77, Dar al Kutub al Ilmiyyah, cet. 1 2009

[5] Jalaluddin al-Mahalli, Kanzur Raghibin, vol. 1 hlm. 451, Maktabah Syamilah

[6] Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib, vol. 6 hlm. 471

[7] Ahmad bin Ahmad bin Salamah al-Qulyubi, Hasiyyah al-Qulyubi, vol. 4 hlm. 252, Dar al-Fikr

[8] Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, vol. 4 hlm. 261

[9] Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, vol. 4 hlm. 261

[10] Sulaiman al-Jamal, Hasiyyah al-Jamal, vol. 22 hlm. 168, Maktabah Syamilah

Bagikan :

Tambahkan Komentar Baru

 Komentar Anda berhasil dikirim. Terima kasih!   segarkan
Kesalahan: Silakan coba lagi