Jum'at Berkah

Jum'at Berkah

Namaku Karamin. Teman-temanku memanggilku Amin. Sedangkan juniorku memanggilku Bang Kar. Dan aku sangat mengantuk. Ini hari Jumat. Aku sudah berada di aula khususiyyah. Menunggu.

Di sekelilingku, santri-santri sudah memenuhi aula. Bapak-bapak pengurus menjaga di belakang, mengatur agar para santri senantiasa berada dalam barisan. Jum’at kali ini spesial, karena yang khtubah adalah Abah Yai, pimpinan tertinggi di pesantren. Setiap kali beliau khutbah, bisa dipastikan kantukku akan hilang. Gaya penyampaian beliau yang memukau dan penuh semangat menular kepadaku, membuat diriku sepenuhnya terjaga.

Ya ma’asyiral muslimin, anshitu wasma’u,” suara muraqqi mulai bergema, tandanya beliau sudah datang. Beberapa saat kemudian, Abah Yai sudah naik mimbar dan memulai khutbahnya. Ajaib, rasa kantukku setiap kali mendengar azan akan hilang tiba-tiba jika mendengar suara berwibawa Abah Yai. Mataku yang tadinya berat menjadi terbuka lebar setiap mendengar salam khas beliau.

“Teman-teman santri sekalian, janganlah kalian tertipu dengan kecerdasan, atau IQ tinggi yang kalian miliki. Karena, secerdas apapun seseorang, jika ia tak pernah belajar, maka akan kalah dengan orang yang rajin.”

Mak jlep. Hatiku mencelos mendengarnya. Diriku serasa disindir habis-habisan oleh Abah Yai. Beliau mengingatkan kita akan pentingnya belajar, muthala’ah. Karena, tanpa belajar, kita tak akan bisa berkembang, sehebat apapun kekuatan pikiran kita. Maksudnya, setinggi apapun pemikiran satu orang, akan kalah oleh pikiran banyak ulama. Santri cerdas yang tak pernah belajar, akan kalah dengan santri biasa yang rajin kitab.

Hei, itulah yang akhir-akhir ini aku lakukan. Jujurly, aku sangat malas belajar beberapa minggu terakhir. Bahkan kalau boleh jujur lagi, sebenarnya sejak awal tahun, Syawal lalu, aku sudah ogah-ogahan berangkat ke pesantren. Kalau bukan karena orang tuaku, mungkin hari ini aku sudah bekerja di salah satu proyek ibukota.

Yang jelas, sebenarnya aku berangkat pondok karena terpaksa. Dan efeknya, aku berprinsip apapun yang terjadi, yang penting aku tetap berada di pondok. Belajar? Nanti-nanti. Yang penting di pondok. Ngaji? Harus kalau ini. Separah apapun kenakalanku, aku tetap mengaji. Sekuat apapun kantuk yang melanda, aku tetap duduk bersila, tak berani membolos barang sekali.

Tapi, itulah minusku. Aku sangat malas belajar. Boleh dikatakan, aku hanya belajar saat di kelas. Di luar itu, hampir tidak pernah. Waktuku kuhabiskan untuk ngopi dan cangkrukan bersama kawan-kawan. Apalagi tahun ini aku sudah boleh merokok. Tak ada alasan untuk tidak betah berada di pondok. Setiap sore, aku akan membuat halaqah, duduk melingkar, mengelilingi kopi dan es. Lantas berbincang apa saja yang bisa diceritakan. Masalah rumah, masa depan, masa lalu, semuanya berputar begitu kencang di tempatku ngopi. Di sudut asrama.

Hatiku masih mencelos saat mendengar sindiran Yai barusan. Namun, belum pulih hatiku sepenuhnya, beliau telah meneruskan khutbahnya lagi.

“Kedua, jangan suka menunda-nunda pekerjaan. Jangan suka menumpuk PR. Pekerjaan sedikit, jika terus menerus ditunda, akan menumpuk banyak sekali. Pada akhirnya, semua tidak akan terselesaikan dengan maksimal. Bahkan pada kasus paling buruk, semuanya tidak akan terselesaikan sama sekali.”

Aduh. Mati aku!

Lagi-lagi, hatiku tertohok. Kalimat beliau begitu menghunjam. Begitu dalam. Hingga ulu hati. Ingin rasanya aku menangis di tempat. Ingin rasanya kututupi mukaku dengan sajadah. Aku begitu malu. Begitu tersindir. Begitu menyesal.

Lima belas menit saja khutbah itu. Namun, rupanya mampu mengubah hidupku. Setelah salat Jumat, aku merenung di sudut kamar. Sendirian.

Apa yang telah aku peroleh selama ini? Bertahun-tahun mondok, aku sudah bisa apa? Membaca kitab? Hanya sebagian. Bahtsul masail? Ah, jangankan mencari ta’bir. Aku hanya bisa berdebat kusir dengan kawanku setiap hari.

Tak ada yang bisa kubanggakan. Tak sebuah hal yang membuatku spesial. Aku seperti santri biasanya. Tak ada kelebihan sama sekali.

Baiklah. Selanjutnya, inti dari semua perenungan ini, sampai kapan aku akan begini terus?

Apakah hingga lulus, aku hanya berbuat seperti ini? Apakah aku tidak malu dengan Abah Yai yang tetap produktif di tengah jadwal ngaji beliau yang super padat?

Tidak! Aku tidak boleh terus menerus seperti ini. Aku harus mengubah hidupku. Mulai dari sekarang, aku berjanji akan berubah. Aku akan produktif!

***

“Amin, woy, Min! Ayo ngopi!” Ahkam, teman sekamarku mengajakkku ngopi. “GAS!”

Aku langsung mengiyakan ajakan sohibku itu. Aku masih sama seperti yang dulu. Masih suka ngopa-ngopi. Masih suka ndobol ngalor ngidul. Masih suka begadang hingga larut malam.

Bedanya, kini aku berusaha untuk produktif. Setiap kali ngopi, aku akan membawa kitab. Apapun itu. Aku ingin sisa waktuku di pesantren ini tidak sia-sia. Aku ingin mengejar keterlambatanku. Kawan-kawanku pun tertular dengan semangatku. Kini, halaqah kami tak ubahnya halaqah majelis “Ngolah Pikiran” setiap malam di depan perpustakaan. Bedanya, circle kami murni santri, dan kitab yang dikaji adalah kitab-kitab yang ringan. Kami ingin memulai dari awal.

Begitulah. Kami tak pernah spaneng saat belajar sambil ngopi. Selalu ada satu-dua bahan candaan. Itu wajar, setidaknya, selama masih mau membuka kitab, kami bukan termasuk orang-orang yang masuk dalam sindiran Abah Yai.

Kalian boleh tak sependapat dengan kami. Bahkan boleh jadi kalian akan mencela kami. Tapi, memang begitulah adanya. Kami adalah kami. Kami telah menanamkan prinsip pada diri kami sendiri. Bahwa kami akan terus belajar. Di mana pun. Kapan pun. Sebagaimana pesan Abah Yai kemarin.

“Jangan menunggu waktu dan tempat yang nyaman untuk belajar. Tapi belajarlah di mana saja dan kapan saja.”

Namaku Karamin. Teman-temanku memanggilku Amin. Sedangkan juniorku memanggilku Bang Kar. Dan begitulah sekelumit kisahku, Kawan.

Tamat

Ngangkruk, 22-06-2024

(Irham Muktafi - Anggota Departemen Literasi)

 

 

Bagikan :

Tambahkan Komentar Baru

 Komentar Anda berhasil dikirim. Terima kasih!   segarkan
Kesalahan: Silakan coba lagi