Cek Khodam Menurut Perspektif Islam

Cek Khodam Menurut Perspektif Islam

 

Apakah konten yang sedang ramai di TikTok juga melintasi layar hp anda? Dengan live yang bermodal “ketik nama kamu di komentar, akan saya cek apakah ada sosok khodam yang mendampingi mu”, maka akan disebutkan ada atau tidaknya khodam pada setiap nama yang tertulis di kolom komentar. Bahkan jika sang kreator disawer dengan gift, maka ia bisa membacakan khodam lebih jelas dan lengkap. Lantas, siapakah khodam yang dimaksud tersebut? Nah berikut mengenal apa itu khodam lebih dekat. 

 

Dalam dunia Islam, khodam yang memiliki arti pembantu. Pembantu disini memiliki makna luas, seperti pembantu rumah tangga, pembantu kantor, atau pembantu lainnya. Namun tren yang lagi digandrungi banyak orang adalah sosok pembantu yang bisa mendeteksi kekuatan irasional yang berasal dari bangsa ghaib, dalam istilah jawa sering disebut perewangan. 

 

Akhir-akhir ini banyak sekali beredar fenomena cek kodam. Banyak pemilik akun medsos yang mengaku mampu melihat khodam (pelayan) manusia, lantas melakukan siaran langsung untuk mengecek dan melihat khodam para viewers.

 

Sementara dari pihak viewers ada yang percaya bahwa kemampuan tersebut benar adanya. Sehingga, mereka rela berjam-jam menonton siaran langsung cek khodam demi mengetahui khodam apa yang menyertainya. Ada juga mereka yang menonton hanya sekedar iseng dan hiburan belaka tanpa memercayai penglihatan streamer.

 

Di kalangan masyarakat masih simpang siur terkait pemahaman khodam ini. Ada yang mengatakan bahwa khodam adalah bangsa jin yang terikat pada diri manusia.

Lantas apakah islam membenarkan cek khodam? Mari kita simak poin-point dibawah ini;

 

  • Percaya Adanya Alam Ghoib

Islam memercayai keberadaan makhluk gaib, makhluk lain ciptaan Allah Swt. yang berada pada dimensi atau alam lain yang tak kasat mata. Sebagaimana maklum bahwa selain manusia Allah juga menciptakan malaikat, iblis dan jin.

 

  • Yang bisa melihat hal-hal ghaib  hanya Allah  SWT semata  begitu juga para rosul yang diridhoinya

 

Perkara ghaib  hanya bisa diketahui oleh Allah  SWT semata  begitu juga para rosul yang diridhoinya

 

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (26) إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ….

Artinya: Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya (QS. Al-jin 28-27)

 

Syeikh Muhammad Amin Al kurdi dalam kitabnya Tanwir Al-Qulub mengatakan: sebagian manusia(selain rosul) yang terbuka bashirohnya juga bisa melihat malaikat, jin, dan syaithon

 

تنوير القلوب (52)

لا يمتنع ظهور الملائكة والجن والشياطين على بعض الأبصار في بعض الأحوال

Artinya : tampaknya malaikat, jin dan syaithon pada seseorang yang terbuka bashirohnya bukan hal yang tidak mungkin

Namun perlu dibedakan manusia yang terbuka bashirohnya walaupun bisa melihat perkara ghoib, mereka hanya bisa melihat tidak dalam wujud aslinya, yakni ketika jin menjelma menjadi manusia atau hewan.Tak ada seorangpun yang mampu melihat jin dalam wujud aslinya kecuali para Nabi.

Jin diberi kekuasaan oleh allah untuk berubah bentuk sebagaimana penjelasan dalam kitab Fatawa Al Azhar sebagai berikut:

فتاوى الأزهر (10/ 148):

الجن عالم شفاف خلق من نار ، يعطيهم الله القدرة على التشكل بالأشكال المختلفة ، وكما لا ترى الملائكة فى حالتها النورانية ، إلا بإعجاز من الله تعالى كما قيل فى رؤية النبى صلى الله عليه وسلم لجبريل فى الغار وليلة المعراج ، لا يرى الجن فى حالتهم الشفافة ، كما قال تعالى : { إنه يراكم هو وقبيله من حيث لا ترونهم } الأعراف

Artinya:

"Jin adalah makhluk transparan yang diciptakan dari api, Allah memberikan kepada mereka kemampuan untuk bermetamorfosis menjadi berbagai bentuk. Seperti malaikat yang tidak terlihat dalam keadaan cahaya mereka, kecuali dengan mukjizat dari Allah Ta'ala, sebagaimana yang disebutkan dalam peristiwa Nabi Muhammad SAW melihat Jibril di dalam gua dan pada Malam Isra' Mi'raj, jin juga tidak terlihat dalam keadaan transparan mereka, sebagaimana firman Allah Ta'ala: '{Sesungguhnya Dia melihat kalian, Dia dan bala tentaranya, dari tempat yang kalian tidak melihat mereka}' (QS. Al-A'raf: 27)."

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam Al- Qur’an:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

Artinya: Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. (QS. Al-A’raf : 27)

Dari ayat di atas, Imam As-subki dalam kitabnya Thobaqot Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra menuqil  perkatan  harmalah yang mendengar perkataan Imam As-Syafi’i sebagai berikut:

طبقات الشافعية الكبرى (2/ 130)

قال حرملة سمعت الشافعى يقول من زعم من أهل العدالة أنه يرى الجن أبطلنا شهادته لقول الله تعالى  إنه يراكم هو وقبيله من حيث لا ترونهم  إلا أن يكون نبيا ذكره الآبرى فى كتاب المناقب

Orang-orang adil yang menyangka dirinya mampu melihat wujud asli jin, maka persaksiannya kami batalkan, kecuali kalau dia Nabi

 

  • Qorin, Makhluk Gaib Yang Menyertai Manusia

Qorin, Makhluk Gaib Yang Menyertai Manusia Meski berbeda dimensi alam, bukan berarti mustahil terjadi interaksi antara makhluk ciptaan Allah Swt. Setiap manusia pasti memiliki qorin (pendamping) dari malaikat dan jin, sebagaimana sabda Rosululloh SAW:

شرح النووي على مسلم (17/ 157)

 قوله صلى الله عليه و سلم ( ما منكم من أحد إلاوقد وكل به قرينه من الجن قالوا وإياك قال واياى إلا أن الله أعاننى عليه فأسلم فلا يأمرنى إلا بخير

 

Artinya:

“Tidaklah seorang pun dari kalian melainkan dikuasai pendamping dari kalangan jin.” Mereka bertanya: Anda juga, wahai Rasulullah? beliau menjawab: “Aku juga, hanya saja Allah membantuku mengalahkannya lalu ia masuk Islam, ia hanya memerintahkan kebaikan padaku.”

 

  • Seseorang yang mengaku-ngaku bisa mengetahui hal ghoib

Seseorang yang mengaku-ngaku bisa mengetahui hal ghoib dikategorikan sebagai peramal atau bisa saja dikategorikan sebagai sihir, dan hakim wajib melarang orang-orang yang melakukan praktek ini, hal ini dijelaskan Dalam kitab Fath Al-‘ali Al-Malik Fi Al Fatwa ‘ala madzhab Al Imam Malik sebagai berikut:

فتح العلي المالك في الفتوى على مذهب الإمام مالك - (ج 2 / ص 11)

( مَا قَوْلُكُمْ ) فِي امْرَأَةٍ تُدْعَى عِنْدِنَا بِالْفَقِيرَةِ تَدَّعِي أَنَّ الشَّيْخَ الْفُلَانِيَّ الْمَيِّتَ يَنْزِلُ عَلَيْهَا وَيَتَرَدَّدُ إلَيْهَا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ بِالزِّيَارَةِ وَالْإِهْدَاءِ فِي يَوْمٍ مَعْلُومٍ كَالْجُمُعَةِ وَعِنْدَ حُضُورِ الزَّائِرِينَ تُحْضِرُ لَهُمْ الشَّيْخَ وَيُكَلِّمُهُمْ بِمَا فِي أَسْرَارِهِمْ وَغَيْرِهِ فَهَلْ هَذَا حَقِيقَةٌ أَوْ كِهَانَةٌ كَمَا كَانَ فِي الزَّمَنِ الْأَوَّلِ أَوْ سِحْرٌ , فَعَلَى الْحَاكِمِ الشَّرْعِيِّ مَنْعُهَا , وَأَخْذُهَا الدَّرَاهِمَ عَلَى ذَلِكَ لَا يَجُوزُ وَهُوَ مِنْ أَكْلِ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ؟ أَفِيدُوا الْجَوَابَ .

فَأَجَبْت بِمَا نَصُّهُ : الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ لَيْسَ هَذَا حَقِيقَةٌ إنَّمَا هُوَ كِهَانَةٌ أَوْ سِحْرٌ وَحَاشَا أَوْلِيَاءَ اللَّهِ الْمُطَهَّرِينَ رضي الله تعالى عنهم أَنْ تَصْدُرَ عَنْهُمْ مِثْلُ هَذِهِ الْقَبَائِحِ بَلْ هُمْ مُتَأَدِّبُونَ مَعَ الشَّرْعِ وَاقِفُونَ مَعَ حُدُودِهِ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا , عَلَى أَنَّ الْأَمْوَاتَ مِنْهُمْ لَا يَتَصَرَّفُونَ فِي أُمُورِ الْأَحْيَاءِ لِانْتِقَالِهِمْ إلَى عَالَمٍ آخَرَ فِي غَايَةِ الْمُبَايَنَةِ لِعَالَمِ الْأَحْيَاءِ إنَّمَا يَتَصَرَّفُونَ فِي أُمُورِ الْأَمْوَاتِ كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ الْغَوْثِ سَيِّدِي عَبْدُ الْعَزِيزِ الدَّبَّاغُ نَفَعَنَا اللَّهُ تَعَالَى بِهِ , وَنَصُّ الْإِبْرِيزِ عَنْهُ فِيمَا يَتَمَيَّزُ بِهِ الْأَحْيَاءُ مِنْ الْأَمْوَاتِ مِنْ الْأَوْلِيَاءِ الَّذِينَ يَحْضُرُونَ دِيوَانَ الصَّالِحِينَ , ثَانِيهَا أَنَّهُ لَا تَقَعُ مَعَهُمْ مُشَاوِرَةٌ فِي أُمُورِ الْأَحْيَاءِ ; لِأَنَّهُ لَا تَصَرُّفَ لَهُمْ فِيهَا وَقَدْ انْتَقَلُوا إلَى عَالِمٍ آخَرَ فِي غَايَةِ الْمُبَايَنَةِ لِعَالَمِ الْأَحْيَاءِ وَإِنَّمَا تَقَعُ مَعَهُمْ الْمُشَاوَرَةُ فِي أُمُورِ عَالَمِ الْأَمْوَاتِ ا هـ .

 

"Artinya:

“Apa pendapat anda mengenai seorang wanita yang dikenal di kalangan kami sebagai 'Si Fakirah', yang mengklaim bahwa seorang syaikh yang sudah meninggal, yang namanya disebutkan sebagai Fulan, turun untuk mengunjunginya secara rutin. Wanita tersebut sering didatangi oleh pria dan wanita untuk melakukan ziarah dan memberikan hadiah pada hari tertentu seperti Jumat. Saat pengunjung hadir, Wanita tersebut memanggil syaikh tersebut untuk berbicara kepada mereka mengenai rahasia-rahasia mereka dan hal-hal lainnya. Apakah ini adalah kenyataan ataukah ini sebatas praktik ramalan seperti yang terjadi di masa lalu, ataukah ini termasuk sihir? Apakah seorang hakim syariah seharusnya melarangnya dan mengambil tindakan hukum terhadapnya karena hal ini merupakan mengambil harta manusia secara batil?"

 

Jawaban yang diberikan menyatakan bahwa hal ini bukanlah kenyataan yang sebenarnya, melainkan lebih cenderung kepada praktik ramalan atau sihir. Para wali Allah yang suci tidak akan terlibat dalam tindakan yang tercela seperti itu. Mereka senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan syariah Islam, baik ketika hidup maupun setelah meninggal dunia. Wali-wali yang telah wafat tidak memiliki keterlibatan dalam urusan orang-orang yang masih hidup, karena mereka telah berpindah ke alam lain yang berbeda dengan dunia orang-orang yang masih hidup.

 

  • Definisi peramal (Al-Kahin)

Al-Kahin (Peramal) adalah orang yang memberikan kabar dengan perantara perbintangan mengenai hal-hal yang tidak terlihat(belum terjadi) di masa yang akan datang sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitabnya Tuhfah Al- Muhtaj Fi Syarh Al Minhaj sebagai berikut:

تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 38 / ص 124)

وَالْكَاهِنُ مَنْ يُخْبِرُ بِوَاسِطَةِ النَّجْمِ عَنْ الْمُغَيَّبَاتِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ

Al-Kahin (Peramal) adalah orang yang memberikan kabar dengan perantara perbintangan mengenai hal-hal yang tidak terlihat(belum terjadi) di masa yang akan datang

 

  • Hukum mempelajari, mengajarkan ramalan, dan mengambil upah dari hasil meramal

Mempelajari dan mengajarkan meramamal hukumnya haram begitu juga memberikan imbalan atau mengambil imbalan dari hal tersebut sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitabnya Tuhfah Al- Muhtaj Fi Syarh Al Minhaj sebagai berikut:

تحفة المحتاج في شرح المنهاج - (ج 38 / ص 124)

وَأَمَّا الْكَهَانَةُ وَالتَّنْجِيمُ وَالضَّرْبُ بِالرَّمْلِ وَالْحَصَى وَالشَّعِيرِ وَالشَّعْبَذَةُ فَحَرَامٌ تَعْلِيمًا وَتَعَلُّمًا وَفِعْلًا وَكَذَا إعْطَاءُ الْعِوَضِ وَأَخْذُهُ عَنْهَا بِالنَّصِّ الصَّحِيحِ فِي النَّهْيِ عَنْ حُلْوَانِ الْكَاهِنِ وَالْبَاقِي بِمَعْنَاهُ

 

 “Ramalan, perbintangan, ritual, dan sulap hukumnya haram baik mengajarkan, belajar dan mempraktikkan. Begitu juga haram memberikan imbalan atau mengambil imbalan dari hal tersebut”

Meramal sangat berbeda jauh dengan mukjizat dan karomah

  • Mu'jizat adalah sebuah kekuatan / keistimewaan diluar akal yang hanya dimiliki oleh rasul yang memiliki mandat kenabian yang mana dengan mukjizat inilah para Rasul menghadapi musuh musuh nya

Dalam arti Mukjizat adalah sebuah  anugerah ilmu /kekuatan yang dimiliki tanpa  adanya proses usaha (ritual) serta tanpa adanya proses belajar dahulu

 

  • Karomah adalah sebuah keistimewaan yang dimiliki manusia yang secara sempurna mampu meneladani perintah syari'at nabinya

 

Dalam arti karamah adalah sebuah anugerah kekuatan yang dimiliki tanpa adanya proses belajar serta tanpa adanya proses ritual ritual amalan tertentu

Sebagaimana yang disampaikan oleh sayyid Abdur Ar-Rahman Al- Masyhur dalam kitabnya Bugyah Al Musytarsyiddin sebagai berikut:

بغية المسترشدين - (ج 1 / ص 644)

مسألة : ي) : خوارق العادة على أربعة أقسام : المعجزة المقرونة بدعوى النبوة المعجوز عن معارضتها ، الحاصلة بغير اكتساب وتعلم ، والكرامة وهي ما تظهر على يد كامل المتابعة لنبيه من غير تعلم ومباشرة أعمال مخصوصة

Artinya:” Mu'jizat adalah sebuah kekuatan / keistimewaan diluar akal yang hanya dimiliki oleh rasul yang memiliki mandat kenabian yang mana dengan mukjizat inilah para Rasul menghadapi musuh musuh nya, Mukjizat adalah sebuah  anugerah ilmu /kekuatan yang dimiliki tanpa  adanya proses usaha (ritual) serta tanpa adanya proses belajar dahulu

 

Karomah adalah sebuah keistimewaan yang dimiliki manusia yang secara sempurna mampu meneladani perintah syari'at nabinya, karamah adalah sebuah anugerah kekuatan yang dimiliki tanpa adanya proses belajar serta tanpa adanya proses ritual ritual amalan tertentu”

  • Mendatangi Peramal

Rosululloh  SAW bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Artinya: “Barangsiapa yang mendatangi kahin atau arraf dan dia membenarkan ucapannya, maka dia berarti telah kufur pada Al-Qur'an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR Ahmad)  

Lebih tegas lagi, Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir mengatakan, apabila seseorang meyakini atau percaya bahwa peramal mampu mengetahui hal-hal gaib tanpa perantara apa pun, maka hukumnya haram dan orang tersebut dianggap kafir. Namun apabila ia meyakini pengetahuan sang peramal tentang hal gaib itu karena perantara jin dan bukan kemampuan sendiri maka hukumnya haram, tapi tidak sampai kafir.

 

 فيض القدير (6/ 30)

 لأن المراد إن مصدق الكاهن إن اعتقد أنه يعلم الغيب كفر وإن اعتقد أن الجن تلقي إليه ما سمعته من الملائكة وأنه بإلهام فصدقه من هذه الجهة لا يكفر

Artinya: “Yang dimaksud adalah orang yang membenarkan peramal jika meyakini bahwa peramal itu tahu tentang hal ghaib, maka ia kufur. Jika ia meyakini bahwa jin yang menyampaikan apa yang ia dengar dari malaikat kemudian ia membenarkannya, maka orang tersebut tidak kufur.”

Di samping itu, para ulama mengatakan keharaman mendatangi dan bertanya kepada peramal dikarenakan mereka menyampaikan hal-hal gaib yang tidak mesti benar, sehingga dikhawatirkan terjadi fitnah di tengah-tengah masyarakat.

    شرح السيوطي لسنن النسائي (3/ 10)

      قال العلماء انما نهى عن اتيان الكهان لأنهم قد يتكلمون في مغيبات قد يصادف بعضها الإصابة فيخاف الفتنة على الإنسان بسبب ذلك ولأنهم يلبسون على الناس كثيرا من الشرائع

Artinya: “Ulama mengatakan: keharaman mendatangi peramal karena mereka berbicara tentang  perkara gaib yang terkadang hanya sebagian yang benar, sehingga dikhawatirkan terjadi fitnah terhadap manusia”

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bertanya di live cek khodam sama seperti mendatangi atau bertanya kepada peramal. Karena dengan bertanya, seseorang akan diramalkan tentang  hal-hal gaib. Bertanya kepada peramal seperti cek khodam dilarang oleh agama. Sebagai muslim, kita tidak boleh mempercayai para peramal.

 

(Ustadz Alfa Faizun Nuha - Ketum LBI PP. Fadllul Wahid) 

Bagikan :

Tambahkan Komentar Baru

 Komentar Anda berhasil dikirim. Terima kasih!   segarkan
Kesalahan: Silakan coba lagi